Jumat, 27 Maret 2015

Nostalgia Masa Kecil Bermain Kelereng

Nostalgia Masa Kecil Bermain Kelereng, Gundu, Pincen, Atau Neker Bagi Masyarakat Indonesia Terutama Generasi 90-an.

Neker atau Kelereng adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca atau tanah liat. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam, umumnya berdiameter ½ inci (1.25 cm). ada juga yang lebih besar dan lebih kecil.

Kelereng dapat dimainkan sebagai permainan anak dan dikoleksi untuk tujuan nostalgia atau karena warnanya yang estetik. Permainan kelereng ini efektif dimainkan oleh anak – anak sekolah dasar umur 7 tahun.


Sejarah Permainan Kelereng

Sejak abad ke-12, di Prancis, kelereng sudah dimainkan. Di Inggris ada istilah marbles untuk menyebut kelereng. Marbles sendiri digunakan untuk menyebut kelereng yang terbuat dari marmer yang didatangkan dari Jerman. Namun, jauh sebelumnya anak-anak di Inggris telah akrab menyebutnya dengan bowls atau knikkers. Kelereng populer di Inggris dan negara Eropa lain sejak abad ke-16 hingga 19. Setelah itu baru menyebar ke Amerika. Bahan pembuatnya adalah tanah liat dan diproduksi besar-besaran.

Ada lagi sejarah kelereng yang lebih tua yang terdapat di peradaban Mesir kuno pada tahun 300 SM. Kelereng terbuat dari batu atau tanah liat. Kelereng tertua koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa. Pada masa Rowami, permainan Kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan.

Bagaimana Cara Bermain Kelereng

Salah satu cara bermain neker atau kelereng yang paling populer adalah mengambar lingkaran kecil di tanah. Semua pemain menaruh sebiji kelereng dalam lingkaran. Lalu masing-masing pemain menaruh kelereng sampai di luar lingkaran. Pemain yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran berhak main dulu. Dia harus mencoba memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai “Striker” untuk memukul kelereng dalam lingkaran sampai keluar lingkaran. Kalau dia berhasil melakukan ini dia berhak untuk menyimpannya.

Kelereng “Striker” ini juga harus tinggal di dalam lingkaran. Kalau tidak, pemilik akan kehilangan kelereng ini. Jika pemain berhasil mengeluarkan sebiji kelereng lawannya dari lingkaran, dia bisa meneruskan pemainnya dan mengeluarkan kelereng “Striker” lawan yang lain. Kalau dia berhasil memukul “Striker” lawan, dia berhak untuk mengambil kelereng itu dan lawannya tidak dapat bermain lagi. Tapi kalau dia tidak berhasil, dia kalah dan pemain berikutnya bisa mulai bermain. Sebaiknya melakukan permainan kelereng itu di tanah yang agak berpasir.

Salah satu cara bermain neker atau kelereng yang paling populer adalah mengambar lingkaran kecil di tanah. Semua pemain menaruh sebiji kelereng dalam lingkaran. Lalu masing-masing pemain menaruh kelereng sampai di luar lingkaran. Pemain yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran berhak main dulu. Dia harus mencoba memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai “Striker” untuk memukul kelereng dalam lingkaran sampai keluar lingkaran. Kalau dia berhasil melakukan ini dia berhak untuk menyimpannya.

Kelereng “Striker” ini juga harus tinggal di dalam lingkaran. Kalau tidak, pemilik akan kehilangan kelereng ini. Jika pemain berhasil mengeluarkan sebiji kelereng lawannya dari lingkaran, dia bisa meneruskan pemainnya dan mengeluarkan kelereng “Striker” lawan yang lain. Kalau dia berhasil memukul “Striker” lawan, dia berhak untuk mengambil kelereng itu dan lawannya tidak dapat bermain lagi. Tapi kalau dia tidak berhasil, dia kalah dan pemain berikutnya bisa mulai bermain. Sebaiknya melakukan permainan kelereng itu di tanah yang agak berpasir.

Bermain Kelereng Termasuk Judi Tersembunyi

Main neker atau kelereng bisa jadi termasuk memenuhi unsur judi. Setiap anak yang mau ikut bermain harus punya modal neker untuk dipertaruhkan. Nanti siapa yang paling pandai dalam permainan itu, berhak mengambil kelereng peserta lainnya.

Meskipun nilai kelereng tidak seberapa, namun pada hakikatnya bentuk permainan itu adalah sebuah perjudian.

Lain halnya bila permainan ini disepakati di awal hanya sekedar main-mainan, dalam arti kalau ada anak/peserta yang kalah, dia tidak perlu kehilangan nekernya, dan yang menang tidak perlu mengambil neker milik temannya yang kalah.

Manfaat Bermain Kelereng Bagi Anak-Anak

1. Mengatur Emosi Kejiwaan Anak-Anak, Bermain neker atau kelereng sangat menyenangkan bagi anak. Kesenangan inilah yang memunculkan unsur relaks yang membantu anak keluar sebentar dari rutinitasnya sehari-hari untuk "me-recharge" kembali baterai energinya. Bila energinya sudah kembali penuh, tentu baik sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang serius, seperti belajar.

2. Melatih Kemampuan Motorik, Kegiatan-kegiatan dalam permainan ini, seperti melempar dan menyentil kelereng, dapat melatih keterampilan motorik halus dan kasar di usia sekolah. Makin baik kemampuan motorik, koordinasi visual dan konsentrasinya maka anak pun semakin mahir untuk menembakkan kelereng-kelerengnya.

3. Melatih Kemampuan Berfikir (kognitif), Kemampuan berpikir anak ikut dirangsang dalam permainan ini. Misalnya, jika ia ingin memenangkan permainan maka harus memecahkan masalah dan menggunakan strategi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.

4. Kemampuan Berkompetensi, Keberhasilan anak menjalani suatu teknik yang lantas memperoleh tanggapan dari para lawan nya merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Adanya perasaan bersaing di usia sekolah sangat penting untuk membentuk perasaan harga diri.

5. Kemampuan Sosial (menjalin pertemanan) Yang paling penting dari kegiatan bermain adalah bagaimana anak mampu menjalin pertemanan dengan kawan mainnya. Jangan lupa, hubungan pertemanan akan memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari konteks sosial yang lebih luas. Misal, ia jadi belajar bekerja sama, belajar mengatasi konflik ketika terjadi pertengkaran pada saat bermain dengan temannya, serta belajar mengomunikasikan keinginan dan pikirannya.

6. Bersikap Jujur, Anak juga punya kesempatan mengembangkan karakter dan kepribadian yang positif ketika bermain, seperti pentingnya kejujuran dan fairness. Kecintaannya pada nilai-nilai yang benar merupakan landasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain di masa yang akan datang.

Bagaimana Proses Pembuatan Kelereng

Quote:Bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi kelereng atau glass marble terdiri dari: pasir, silika, soda kapur, dan bahan lain sebagai pigmen warna dan dekorasi di dalamnya. Soda kapur yang merupakan campuran dari kalsium hidroksida dengan natrium/kalium hidroksida dipakai untuk menyerap karbondioksida pada proses peleburannya. Selain bahan tersebut, kelereng juga ada yang dibuat dari bahan cullet atau memakai scrup glass.

Proses pembuatan kelereng terdiri dari empat tahapan yaitu: pelelehan/peleburan bahan, proses injeksi, pemotongan atau pembentukan, dan tahap penyortiran. Pada tahap pelelehan, bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam tangki yang kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 1.200 derajat Celcius. Proses ini berlangsung sekitar 28 jam. Kemudian dilanjutkan pada tahap ke dua yaitu injeksi. Campuran bahan yang telah melebur seperti lava kemudian dialirkan pada tangki lain untuk disuntikkan dengan bahan pigmen lain sehingga adonan kelereng menjadi warna-warni. Tahap ketiga adalah pemotongan dan pembentukan. Cairan kental kelereng yang berupa gumpalan kaca dialirkan pada sebuah metal berjalan dan dipotong-potong secara otomatis pada ukuran tertentu (misalnya 2 cm). Selanjutnya kubus-kubus kaca tersebut dialirkan pada mesin pembentuk bola sehingga produk akhir yang keluar adalah bola-bola kelereng yang telah jadi. Untuk menjaga kualitas, maka diperlukan juga kegiatan penyortiran terhadap kelereng-kelereng yang bentuknya tidak sempurna.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive